Rabu, 26 November 2014

Sebuah Kisah Tentangmu - 2

     Matahari pagi ini menyoroti sangat tajam. Menyoroti wajah-wajah manusia yang bosan dengan segala rutinitasnya. Menyoroti wajah-wajah kesal karena kemacetan pagi hari. Terutama aku, matahari menyorotiku dengan sangat tajam. Berbeda saat dia menyoroti wajah manusia lainnya saat di jalan. Menyorot seperti di ruang interogasi tahanan, tajam dan pengap, panas dan memusingkan. Matahari itu seolah-olah menghakimiku. Menuduhku atas semua kesalahan-kesalahanku kepadamu, wanita yang anggun dan baik kepribadiannya. Dia menghakimiku seolah-olah hanya akulah yang salah. Ku pergi meninggalkanmu saat kamu telah dengan yang baru. Matahari itu menghujaniku dengan berjuta pertanyaan, "apakah kamu bodoh meninggalkan dia? Kamu tolol!" Aku pun terdiam terpaku, tak bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diteriakan kepadaku. Mulutku membisu, seolah-olah terkunci dengan rapat tanpa ada yang bisa membukanya. Aku ingin berontak, meneriakan pembelaan di telinga matahari itu. "Aku tidak bodoh, aku hanya ingin melihat dia bahagia dengan yang lain. Aku tidak ingin mengusik kebahagiaannya.", aku ingin mengucapkannya dan kembali aku membisu.
     Aku mencintai dia, tapi apakah cinta itu harus memiliki? Aku menyayanginya, tapi apakah sayang itu selalu berada di dekatnya? Aku pergi tanpa tahu jawaban yang sebenarnya. Aku pergi dengan meninggalkan sejuta pertanyaan di hati, lebih banyak dibanding dengan pertanyaan yang diajukan sang matahari. Aku pergi dengan perasaan yang menebak-nebak, apakah kamu juga mencintaiku?
      Aku rasa aku sudah selesai, masaku sudah habis untuk bersamamu. Kamu sudah mendapatkan yang baru, pengganti dari yang telah lama menghilang. Aku pergi sesuai perkataan, aku pergi seperti koboi di kisah klasik Amerika. Apabila kamu disakiti, maka panggilah aku lagi untuk menemanimu. Biarlah aku berdamai dengan kesendirianku, lagi.