Selasa, 22 Juli 2014

Goresan Tinta Bernama Kenangan - Part 1

Tulisan ini awalnya ditulis dengan tujuan ucapan terima kasih saya kepada semua anggota Las Veras, tetapi karena ada masalah teknis selama proses editing, tulisan ini sedikit terlambat dari target penerbitan. Secara tidak sengaja saya kembali melakukan proses editing pada tanggal 22 Juli 2014, tepat 1 tahun kami memulai bersama. Happy 1st Anniversary Las Vera's 58 ({}) Semoga di kelas 12 ini kita semua akan lancar dan sukses selanjutnya, semoga kalian sehat selalu biar praktek tidak ada yang ketinggalan dan biar bisa selalu beribadah kepada Tuhan :) Aamiin....

22 Juli 2013, kalau tidak salah itulah hari pertama saya menginjakkan kaki di kelas 11.2. Awalnya saya tidak mengetahui siapa walikelas saya, yang saya tahu beliau itu katanya galak, beliau bernama ibu Vera Marzuklina. Beliau mengajar mata pelajaran Fisika, mata pelajaran yang saya tidak pahami semenjak menggunakan seragam putih-krem, seragam kebanggaan SMAKBo.
Saya tidak tahu dengan siapa saja saya akan sekelas, tapi yang jelas saya akan sekelas dengan sang juara umum angkatan yaitu Dwi Tiara Tanjung. Saya berpikir ini akan menjadi kelas yang membosankan dan penuh dengan persaingan memperebutkan nilai antara satu dengan yang lainnya. Pada hari pertama saya tidak terlalu banyak mengenal teman-teman sekelas, hanya beberapa diantara saja yang saya kenal namanya seperti Galuh, Alvira, Nabil, Ratu, Muadzin, Ryan, Windy, Rizky, dan Nizzar. Sebenarnya saya kenal semua teman sekelas, tetapi sayangnya saya hanya tidak mengetahui nama, kenal muka tapi tidak kenal nama, kebiasaan saya dari SMP.
Pada awalnya saya tidak bisa pindah ke lain hati karena masih ingin bersama teman-teman kelas 10-7, kelas pertama saya, teman pertama saya, dan teman seperjuangan melawati jurang yang kecil tetapi dalam yang bernama DO (Drop Out). Apalagi ruang kelas 10-7 itu terpencil sehingga menambah kesolid-an diantara kita karena tidak mempunyai teman bermain seangkatan, hanya teman dari kelas 10-8 saja teman kami di pojok sekolah. Baiklah kita lupakan permasalahan kelas 10.
Lambat laun saya semakin mengenal kelas 11-2, citra yang terbentuk pertama kali mengenai kelas 11-2 yang membosankan sirna seketika karena ternayata teman-teman dari kelas 11-2 memiliki selera humor yang tinggi. Sehingga dalam suasana serius pun kita masih bisa bercanda. Saya tumbuh menjadi dewasa dan mengenal sebuah sosialisasi dari sini, dari kelas 11-2. Kemudian setelah beberapa bulan kami bersama, kami mulai memikirkan tentang nama kelas kami yang akan kami bawa tidak hanya selama kelas 11 tetapi akan kami bawa hingga lulus, mungkin hingga nanti ketika kami semua sudah menikah, mempunyai anak dan sukses (aamiin). Awalnya kami menamakan kelas kami yaitu Keseduh58, nama itu cukup bertahan lama hingga akhir semester 3. Kemudian kami berganti nama dan menjadi sebuah nama yang tetap, yaitu Las Veras. Sebenarnya ini adalah plesetan dari nama sebuah kota Las Vegas, kenapa Las Veras? Karena walikelas kami bernama ibu Vera, jadi kami plesetin menjadi Las Veras. Agak tidak sopan memang, ah tapi peduli apa kami tentang nama walikelas, selama walikelas tidak menegur nama kami, kami akan tetap menggunakan nama itu selamanya. Dan hingga akhir kami kelas 11, ibu Vera tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang nama kelas kami, padahal kami sudah 2 kali membuat cover untuk project bahasa Inggris dengan nama itu dan dikirimkan ke bagian perpustakaan tetapi masih tak ada tanggapan dari Ibu Vera. Bearti dalam pikiran saya, beliau merestui namanya digunakan oleh anak-anaknya untuk menjadi nama kelas, selamanya. Tapi mungkin saja Ibu Vera tidak pernah ke perpustakaan, who know?
Di kelas 11 ini saya melaksanakan praktikum di 5 laboratorium, yaitu Analisis Volumetri, Analisis Instrumen 1, Analisis Mikrobiologi, Laboratorium Bahasa, dan Laboratorium Komputer. Di 5 lab itu, 3 diantaranya saya mempunyai seorang rekan yang setia mendampingi saya saat praktikum berlangsung, baik saat suka maupun duka (apaan sih?-_-). Di Lab. Volumetri saya mempunyai rekan bernama Perliani Mabruroh, anak asli Bekasi ini menjadi istri saya di lab Volumetri selama 1 tahun untuk menjalani kurang lebih 30 penetapan, kemudian di Lab. AI-1 saya mempunya rekan bernama Alifa Khusnun Khoeliqoh, anak asli Leuwiliang ini menjadi rekan saya selama praktikum berlangsung (cerita seru bersama Alifa akan saya tulis disaat yang berbeda), dan yang terakhir rekan saya di Lab. Mikrobiologi yaitu Nawang Pratiwi, anak asli Jakarta yang saat MOS satu bendera (kelompok) dengan saya dan saya sendiri jadi ketuanya.
Di kelas 11-2 ini saya kembali dinobatkan sebagai Sekretaris kelas lagi yang mengurusi bagian absensi kelas, mungkin saya dinobatkan bukan karena tulisan saya bagus tapi karena keberanian saya ngomong dengan guru dan sifat melawan saya kalau melihat ada sesuatu yang ganjil antara hubungan guru dengan murid.

*****

Tak terasa setengah semester telah saya lewati bersama mereka dan artinya UTS pun sudah jelas terpampang di depan mata. Materi-materi baru yang tidak didapat saat kelas 10 seperti Kimia Organik dan Kimia Fisika menjadi momok yang menakutkan karena belum mempunyai bayangan apapun tentang pelajaran tersebut. UTS pun dimulai dan akan berlangsung selama 1 minggu. Saya yang pada saat itu juga sedang melaksanakan persiapan untuk LKBB Bimakarsa merasa takut sekali akan ujian karena setelah saya bubar sekolah pukul 16.00, harus melakukan latihan lagi sampai magrib dan sampai ke rumah kurang lebih pukul 7 malam. Dengan keadaan tubuh yang sangat lelah saya jadi tidak dapat belajar pada saat di rumah jadi saya hanya fokus untuk belajar di sekolah. Untungnya saat itu kami sudah merasa akrab sekali satu dengan yang lainnya sehingga saya tidak pernah merasa canggung untuk bertanya tentang pelajaran apapun kepada siapa pun serta untuk duduk dengan siapa pun. Saya merasa beruntung sekali berada di kelas 11-2 ini. Karena bantuan mereka, UTS saya pun berjalan hanya dengan sedikit hambatan. Walaupun pada saat sedang UTS saya masih berlatih LKBB tetapi alhamdulillah saya mendapatkan hasil memuaskan di 2 pelajaran yang menjadi momok menakutkan bagi saya di awal semester, ya meskipun saya tetap saja gagal di mata pelajaran Fisika.
Setelah UTS tidak banyak waktu lagi untuk belajar karena selang 1 bulan dari selesainya UTS kami akan menghadapi UAS Ganjil. Memang seperti itulah jadwal sekolah saya, tidak berperikemanusiaan tetapi untuk meraih sebuah hasil yang besar tidak mungkin kan hanya dengan melakukan pengorbanan yang kecil? Usaha berbanding lurus dengan hasil.
Selama 1 bulan tersisa untuk belajar, kami saling membantu dan menyemangati teman-teman yang kurang dalam pelajaran apa pun. Tidak ada persaingan yang terlihat jelas disini, kami semua menjadi satu dan bertekad untuk naik kelas bersama bahkan di wisuda pun akan bersama pula. Kami masuk kelas 11-2 berjumlah 28 orang dan harus di wisuda 28 orang juga pada tahun 2016 nanti.
"Kita memulai bersama dan akan mengakhirinya bersama juga." -@Las_Veras58-
Walaupun pada akhirnya di semester ganjil ini kami kehilangan salah satu teman kami, Rizky Septian Nugraha. Setelah salah satu teman kami gugur, tentu kami tidak ingin hal itu terjadi lagi kepada teman seperjuangan kami. Cukup 1 dan tidak boleh bertambah.

Pergi ke BO Sekelas

Ini salah satu cara kami menambah keakraban satu sama lainnya. Kejadiannya itu pada saat akan dilaksanakannya wisuda angkatan 55. Karena seluruh guru, staff, dan siswa-siswa sibuk mempersiapkan hal itu maka sekolah di pulangkan lebih cepat dari biasanya selama seminggu. Ada diantara kami yang pergi menonton ke BO juga merupakan panitia dan pemain kesenian. Karena jadwal latihan kami siang sekitar pukul 1 siang dan kami pulang jam 10 pagi maka setelah berdiskusi di kelas kami memutuskan pergi ke BO yang letaknya ada di depan jalan menuju sekolah kami.
Saat di BO kami memilih film-film yang akan ditonton. Ada banyak usulan dan usulan tersebut rata-rata untuk film yang bagus, tetapi selalu saja ada yang bilang "Gua udah pernah nonton" dan itu kebanyakan dari pihak perempuan yang begitu. Sekitar 20 menit kami memilih film yang akan di tonton, akhirnya kita menonton film World War Z. Lumayan lama durasi film tersebut, nah karena lumayan lama itulah alasan mengapa kami untuk menonton di BO.
Saat menontonnya jelas yang paling heboh adalah lagi-lagi pihak perempuan, padahal adegan biasa saja seperti dikejar kemudian digigit oleh zombie. Kalau yang laki-laki? Tidak usah ditanya, mereka sedikit ribut dan kebanyakan antengnya. Anteng menikmati film dan seperti saya anteng tidur di ruangan ber AC serta gelap, walaupun tidur tidak lama tapi lumayan segerlah.
Ini adalah hal yang agak kurang saya sukai setelah nonton di BO, kita harus keluar ruangan yang sofanya empuk, ber AC, dan nyaman untuk pergi latihan di sekolah dan menghadapi kenyataan bahwa latihan akan semakin berat. Satu hal lagi yang kurang saya sukai adalah membayarnya (hahaha... -.-v). Hati senang dompet pun mengerang.

Sempat Berpikir Pindah Sekolah

Di semester ini juga saya pernah merasa jenuh. Berangkat jam 6 pagi, pulang jam 4 sore, latihan pasus sampai maghrib, ditambah lagi Sabtu dan Minggu harus melatih Paskibra di SMP. Di rumah saya selalu bilang ingin pindah saja ke SMA umum hingga terkadang terjadi perdebatan dengan kakak saya yang paling tidak setuju kalau saya pindah.
Ketika saya berada pada titik lewat jenuh, mereka datang menawarkan berjuta keceriaan kepada saya. Mereka seolah-olah berkata "Lu rela ninggalin kelas lu yang seru ini?". Keputusan saya waktu itu sudah bulat bahwa saya akan pindah dan orang tua saya sudah pasrah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tapi suatu saat saya teringat kembali pada keceriaan-keceriaan yang telah mereka berikan tidak hanya kepada saya tetapi seluruh teman-teman.
Karena kalian saya masih dapat bertahan disini dan mulai menatap bahwa ini adalah sekolah saya, sekolah yang saya idamkan dari SMP. Kalian telah menjaga mimpi saya dan orang tuasaya untuk menjadi seorang analis kimia. Terima Kasih banyak :)

*****

Ujian Akhir Semester 3 telah terlewati. Saya sudah mendapatkan hasilnya dan saya masih stuck dengan posisi ranking pertengahan. Di semester 3 ini saya merasa nyaman dan posisi mulai sayang dengan mereka semua. Saya merasa bahwa ini kelas yang paling asik, gokil, dan seru. Tidak terasa 1 semester telah kami lewati bersama, suka dan duka kita tanggung bersama. Itu artinya kita tinggal 1 semester untuk bersama lagi, semester yang akan menentukan bahwa kami akan naik atau tinggal kelas, apakah kami akan di wisuda bersama atau akan ada yang tertinggal. Inilah kenyataan, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau kita harus menghadapinya. Be Brave To Face The Fact, itulah prinsip yang selalu saya pegang selama menjalani pendidikan disini.
Bagaimana dengan semester 4? To be continue...




Nb: sorry ya kalau tulisannya ngalor ngidul. udah lama ga menulis jadi sedikit kaku untuk buat stay di satu bahasan. Btw makasih ya udah mampir, part 2nya lagi proses editing juga kok :)