Selasa, 23 Desember 2014

Sebuah Kisah Tentangmu - 3

"Kamu kenapa?" tanyaku heran.
"Kenapa apanya maksud kamu?" kamu mengernyitkan dahimu.
"Kamu sadar gak, kalau sekarang seperti ada sebuah dinding besar yang menghalangi kita. Kita tak sebebas dahulu saat berbincang, bertukar pikiran tentang rencana hidup kita." ucapku dengan polosnya tanpa berpikir panjang.
"Jadi maksud kamu, aku berubah?" kamu menjawabnya dengan kaget.
"Sepertinya tidak, aku lah yang berubah." ucapku untuk menghindari kekecawaan kamu, padahal kalau aku jujur kepada mungkin tidak akan seperti ini.
"Kamu berubah kenapa?" tanyamu penuh selidik.
"Aku sedang menyukai seorang wanita, lebih tepatnya menyayanginya. Dia selalu ada disini, saat kita berbincang kita saling menyambung satu sama lain tanpa pernah kehabisan bahan obrolan. Wanita  yang satu ini membuatku bingung." aku menjelaskan secara detail agar kamu tahu bahwa wanita itu adalah kamu.
"Siapa wanita itu? Teman sekolahmu?" tanyamu penuh dengan selidik. Ah sial, kamu tidak peka atau kamu pura-pura tidak peka kalau wanita itu kamu.
"Kalau itu kamu bagaimana?" senyumku sinis.
"Kamu tidak lagi bercanda kan? Iya kan?" Kamu menjawab spontan, pipimu merah dan langsung tertunduk malu. Ah betapa cantiknya dirimu saat itu, seandainya aku bisa menikmatinya lebih lama.
"Sayangnya aku sedang serius kali ini. Aku sedang tak ingin bercanda." jawabku dengan penuh ketegasan.
"Kamu ini ada-ada aja ya, aneh tau tidak. Sekarang kamu membuatku bingung harus bagaimana." tatapanmu, iya tatapanmu saat membalas ucapanku begitu bingung. Seperti anak kecil yang tertinggal ibunya di sebuah pasar.
"Kamu tidak usah pikirkan perasaanku, kamu bersikap biasa saja seperti sehari-hari kepadaku. Kamu bisa kan?" jawabku untuk meyakinkanmu
"Iya aku coba deh." kamu pun mengangguk.
Obrolan hari itu cukup sampai disitu, tanpa kata, tanpa suara, kamu pergi meninggalkanku disini. Meninggalkanku dalam sejuta rasa bersalah yang hinggap dihati. Meninggalkan dengan sejuta rasa penyesalan yang menyesakan dada sampai saat ini. Meninggalkan ku dengan perasaan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi padamu.

*****
Minggu ke-1

     1 minggu adalah waktu yang lama untuk tidak berkirim kabar bagi kita yang hampir setiap hari saling menyapa di chat room yang kita buat. Aku pun sudah terbiasa dengan hal itu, aku sudah siap dengan segala resiko yang mungkin hadir ketika ku berkata jujur tentang perasaanku padamu. Kamu tidak pernah menolak ataupun menerima perasaanku itu, tapi aku sudah bisa menebak dari guratan matamu kala itu. Matamu mengartikan segalanya bagiku, matamu berkata bahwa "maaf hatiku sudah terisi oleh lelaki lain". Perlahan-lahan bayangmu pun pergi menjauh, suaramu semakin samar ku dengar dari sini, dan jejak kaki mu semakin melangkah jauh menjauhiku.

*****
Minggu ke-2

     2 minggu kemudian aku mendengarmu sedang dekat dengan seorang lelaki. Aku tidak tahu siapa lelaki itu, tidak pernah kamu sebutkan namanya dikala kita bersama untuk menikmati secangkir coklat panas. Aku termenung sendiri, apakah aku begitu mudah dilupakan dan kemudian digantikan dengan orang itu? Apakah aku sudah tidak bearti lagi bagimu? Aku, iya aku, orang yang dulu selalu ada untuk kamu disaat kamu galau karena pacarmu dahulu. Aku yang selalu siap mendengarkan curhatmu panjang lebar, memberikan semangat untukmu disaat kamu sedih, dan mendoakan mu disaat kamu sakit. Sebegitu tak berharganyakah diriku?
     Apakah kamu tahu? Selama 2 minggu aku selalu menunggu kabar darimu, aku ingin menyapamu terlebih dahulu tapi entah kenapa jari ini kaku tidak dapat mengetik sekedar "Apa kabar?".  Entah mengapa berat sekali, mungkin hatiku sudah tahu semuanya. Sayangnya pikiranku selalu berharap ada kamu di setiap detik hidupku. Dan kamu? Kamu hilang saja pergi kemana pun yang kamu suka, melupakan ku sendiri disini tanpa pernah menengok sedikit kearahku semenjak hari itu. Kamu terlalu asyik dengan duniamu, dengan lelaki barumu, sehingga aku yang sudah menunggu sejak lama disini tak kamu hiraukan keberadaannya.

*****
Minggu ke-3

     3 minggu setelah itu, aku pun tersadar akan suatu hal. Terlalu lama memang waktu yang dibutuhkan untuk sadar akan hal ini. Aku tersadar perkataan diriku sendiri, "Aku akan selalu menemanimu sampai kamu mendapatkan penggantimu. Selama itu pula aku selalu berada disampingnya, dan memberikan semangat. Setelah kamu mendapatkan penggantimu, kamu dan aku akan saling pergi. Kalau kamu di kemudian hari tersakiti (lagi) oleh lelaki, maka datanglah padaku kembali. Aku masih sama seperti dulu. Aku adalah koboi cinta dari Bogor, aku akan datang disaat kamu sedih dan akan pergi disaat kamu senang. Karena bagiku, membantumu bahagia sudah cukup membahagiakan aku disini.". Aku bodoh, sebegitu lamakah waktu yang dibutuhkan untuk mengingat ucapan itu? Seandainya aku mengingat lebih cepat ucapan itu, mungkin aku tidak akan pernah merasa kesepian seperti ini. Mungkin aku akan cepat menghadapi dunia ini tanpa kamu disampingku lagi karena kamu sudah dengan yang baru. Mungkin akan lebih cepat bagiku untuk menumbuhkan sayap hatiku yang hilang karena kamu bawa pergi dan kembali terbang normal seperti biasanya, yang biasa berteman sepi dan kesendirian di langit kehidupan yang luas ini.
     Kini pun aku terbiasa menikmati segelas coklat panas sendiri di sore hari ketika turun hujan disini, tanpa ada kamu lagi dihadapanku sore itu. Aku sudah melepaskanmu untuk pergi bersama lelaki itu. Tapi satu hal yang pasti, tempatku tidak akan pernah berubah, akan selalu disini. Minuman kesukaanku tidak akan pernah berubah walaupun musim telah berganti. Dan perasaanku padamu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun, dengan harapan agar kamu mudah untuk menemukan ku disini.