Sabtu, 25 Mei 2013

Hilang, sebuah perpisahan

Perpisahan. Salah satu kata yang kadang terdengar sangat menyebalkan bukan? Kadang-kadang. Ya, setidaknya itu yang ada di dalam kepala saya ketika mendengar kata perpisahan. Perpisahan selalu identik dengan kesedihan, kehilangan. Entah kenapa terkadang juga saya merasa sangat tidak biasa dengan yang namanya perpisahan. Padahal seharusnya saya, kita, sudah terbiasa dengan yang namanya perpisahan semenjak kecil, bukan ?! Mulai dari perpisahan dengan teman saat kecil, teman sekolah, pacar dan bahkan mungkin ..keluarga. Ya begitulah..
"Pertemuan dan perpisahan, dua pasangan yang mewarnai pelangi kehidupan manusia, ibaratnya."
Setiap ada pertemuan berarti kita harus siap ketika waktu berpisah itu pada akhirnya tiba. Karena hal itu pasti terjadi, mau ataupun tidak. Perpisahan memang kata yang paling berat dan menakutkan. Entah mengapa, seolah memang setiap orang tidak siap dengan kata itu, termasuk saya. Dari dulu, setiap kali akan 'ditinggalkan' oleh seseorang—entah siapapun itu, saya pasti mencoba menghindar atau paling tidak berusaha berkelit dari kenyataan dengan berbagai macam kamuflase yang bisa menenangkan hati saya sendiri. Everything happens for a reason, lagi dan lagi..


Pernah terpikirkan pemikiran 'lebih baik saya yang meninggalkan orang lain, daripada saya harus ditinggalkan oleh orang lain' ? Semoga bukan saya saja yang sering berpikiran demikian. Sadar ataupun tidak memang pada kenyataannya lebih menyebalkan berada dalam posisi 'ditinggalkan' daripada 'meninggalkan'. Terutama untuk persoalan-persoalan tertentu, cinta misalnya. Ha! Jika perpisahan itu terjadi sekali dua kali, mungkin masih bisa ditoleransi. Namun jika harus dilakukan berkali-kali? Bukankah akan sangat melelahkan menghindari hal serupa berulang kali? Terlebih jika pada kenyataanya, cara demikian hanya sebuah kamuflase, karena pada akhirnya tetap berujung pada kehilangan.

Lalu bisakah kita bersahabat dengan perpisahan?! Bersahabat bukan berarti bersikap biasa saja dengan setiap perpisahan yang terjadi, tetapi mungkin mulai menyadari bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa dimiliki manusia, selain rasa kehilangan, karena nyatanya segala sesuatu di dalam hidup ini (katanya) hanya berakhir pada satu kata sederhana; perpisahan.

"Setiap awal pasti ada akhir.. "

Pun ketika pada akhirnya kita, saya dan kamu juga kalian harus berpisah ...bukankah seharusnya hal ini sudah bisa kita ramalkan sejak kali pertama mata kita beradu, tangan kita berjabat dan kata kita bercakap? Lalu, anggap saja pertemuan kita ibarat irisan antara himpunan hidup kita, saya dan kamu juga kalian. Kita sama-sama memiliki sebagian kenangan yang sama dalam hidup kita. Begitu kan?

gua sedih ketika malam ini rekap absen kalian semua. ternyata kita udah di lembar akhir buku agenda kelas dan absen. ada rasa sedih yg gua rasain ketika harus nutup buku agenda kelas dan absen 10.7. rasanya gamau ninggalin kalian, but life must go on. makasih buat semua kawan, semua pelajaran dan kenangan yg kalian kasih bakal selalu gua inget. maaf kalau selama 1 tahun ini gua suka nulis kalian telat walaupun cm lewat 1 atau 2 menit. i love you SESEPUH ({})

Tapi bagaimanapun, saya lebih suka menikmati suatu rasa kehilangan dalam kesendirian, dalam diam.